Oleh : Gladys Tiffany Apriana, Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Siber Asia
Di era kemajuan informasi dan kesetaraan gender, isu gender menjadi topik penting yang perlu mendapatkan perhatian kita semua. Salah satu isu menarik yang muncul adalah representasi gender dalam pembawaan berita otomotif dan olahraga di media massa. Meskipun perempuan memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam mengenai otomotif dan olahraga, masih jarang ditemui dalam peran pembawa berita untuk dua bidang ini.
Meski beberapa kemajuan telah terjadi dalam menghadirkan perempuan sebagai pembawa berita di berbagai bidang jurnalistik, namun di dunia otomotif dan olahraga, laki-laki sebagai narator utama masih tetap kental. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya secara tidak kita sadari ternyata ada stereotip gender yang berpengaruh dalam pembawaan berita dan persepsi masyarakat terhadap perempuan di bidang tersebut.
Stereotip gender tentang otomotif dan olahraga seringkali memandang laki-laki lebih kompeten dan ahli di bidang tersebut, sementara perempuan cenderung dipandang kurang mampu atau kurang berminat. Padahal kenyataannya, sudah banyak kok perempuan yang memiliki minat dan pengetahuan mendalam mengenai otomotif dan olahraga, bahkan sebagian dari mereka memiliki pengalaman yang luas di bidang tersebut.
Menyuarai keberagaman dalam dunia jurnalistik adalah langkah penting dalam melawan stereotip gender. Mempertimbangkan perempuan sebagai pembawa berita otomotif dan olahraga akan memberikan tampilan yang berbeda dan lebih beragam. Dengan melibatkan perempuan sebagai narator utama dalam bidang-bidang tersebut, media massa dapat memperkaya pandangan berita yang disajikan kepada publik.
Selain itu, memperbanyak perempuan di dunia jurnalistik, termasuk sebagai pembawa berita otomotif dan olahraga, akan memberikan contoh yang kuat bagi generasi perempuan muda. Hal ini dapat menginspirasi dan memberikan keyakinan pada mereka untuk mengejar hasrat dan aspirasi di bidang-bidang yang sering dianggap ‘dikuasai’ oleh laki-laki.
Tentunya, langkah ini bukan berarti mengecilkan peran dan kontribusi laki-laki dalam dunia jurnalistik, namun lebih pada penciptaan lingkungan yang lebih beragam. Dalam lingkungan yang demikian, potensi dan kemampuan setiap individu dapat diakui dan dihargai tanpa memandang jenis kelamin.
Saatnya jurnalistik dunia membuka diri untuk menerima dan melengkapi perempuan sebagai pembawa berita otomotif dan olahraga. Dengan melarang batasan-batasan gender yang kaku, kita dapat menciptakan suatu masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan berkeadilan gender, serta menginspirasi generasi mendatang untuk meraih potensi penuh tanpa dibatasi oleh stereotip gender.